garut header
Rabu, 18 Oktober 2017   English | Sunda
rss2
Assalam wrwb, Maaf sebelumnya, dimana saya…
assalamualaikum, upami bade magang di dinas…
aslkm.bade naroskeun upami prosedur ngadaamel surat…
Situs yang bagus, sangat bermanfaat. saran…
Tekan tuts panah kiri/ kanan Keyboard untuk berpindah ke artikel lain
Jadwal Imsakiyah
rss2 berita
Cuma Orang Garut Berani dan Bisa Pegang Kepala SBY

Beberapa hari lalu, Ani Yudhoyono mengunggah foto suaminya, mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang tengah dicukur rambutnya di Instagram.

Dia menulis, “Bapak dari Garut inilah yang paling berani pegang kepala SBY”, “This is the man from Garut whos so brave to touch SBYs head.” Siapa laki-laki “pemberani” itu?. Demikian sebagaimana dilansir detik.com

Adalah Agus Wahidin, 49 tahun. Agus seorang “Asgar” alias “Asli Garut” berasal dari Kampung Parung, di Desa Bagendit, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut yang sudah sejak lama dikenal sebagai kampungnya tukang pangkas rambut.

Jangan heran jika kehidupan warga di Kampungnya para tukang cukur itu tampak bangunan rumah tembok tidak kalah megah dengan bangunan gedung dirumah kawasan perkotaan. Maklum karena penghasilan para tukang cukur itu terbilang mencorong diantara profesi lainnya dikampung itu.

Sudah hampir 12 tahun SBY menggunakan jasa tukang pangkas asal Garut itu. Agus “kenal” dengan Presiden SBY lewat Suripto, pegawai di kantor Sekretariat Negara yang jadi pelanggan setianya. Saat itu Susilo Bambang Yudhoyono baru enam bulan dilantik menjadi Presiden Indonesia. “Waktu itu tukang potong rambut Pak SBY lagi sakit. Pak Suripto lalu merekomendasikan saya kepada Bagian Rumah Tangga Kepresidenan,” Agus menuturkan dua pekan lalu.

Suatu sore, Suripto menelepon Agus, yang saat itu masih bekerja di Paxi Barbershop, Plaza Senayan, Jakarta. Dia minta Agus segera berkemas. Tak lama kemudian, ajudan Presiden datang menjemputnya. Saat Agus memasuki satu ruangan di Istana Negara, Presiden SBY sudah duduk di sebuah kursi. Ibu Negara Ani Yudhoyono dan beberapa anggota Paspampres juga berada di dalam ruangan itu. “Sebelum masuk, saya sudah dipesan agar tidak grogi,” kata Agus, yang sekarang bekerja di Crownpax Barbershop di Mal Ratu Plaza, Jakarta.

Agus segera mengeluarkan semua peralatan cukur yang ia bawa. Kemudian meminta izin kepada SBY untuk membungkus badannya dengan kain penutup. Seraya meminta maaf, ia memegang kepala SBY. “Saya sih tidak grogi, tapi sempat terdiam mikir model paling baik untuk rambut beliau,” kata Agus. Ani Yudhoyono-lah yang jadi “pengarah model” rambut untuk Presiden. “Bu Ani ngarahin bagian belakangnya agak pendek sedikit, bagian sampingnya juga dirapikan.”

Agus hanya butuh waktu sekitar 15 menit untuk merapikan rambut Presiden SBY. Ani Yudhoyono, yang ikut menunggu di ruangan itu, juga tampak puas. “Besok-besok potong model begini lagi,” ujar Agus menirukan Ani Yudhoyono. Begitu tiba di rumahnya, semalaman Agus tak bisa memejamkan mata. “Saya tidak membayangkan bisa mencukur Presiden. Soalnya, belum pernah tukang cukur dari Garut bisa megang kepala Presiden.”

SBY rupanya senang dengan hasil potongan Agus. Sekitar dua minggu kemudian, ajudan Presiden menghubunginya. Agus diminta datang ke kediaman Presiden SBY di Cikeas, Bogor. “Sejak saat itu sampai sekarang, saya selalu dipanggil untuk mencukur beliau,” kata Agus.

Merasa mendapat kepercayaan dan kehormatan, Agus berusaha memberikan pelayanan terbaik kepada Presiden. Ia menguras uang tabungannya membeli satu set peralatan cukur terbaik di Pasar Baru. Gunting sasak merek Dovo dibelinya dengan harga Rp 2,5 juta.

“Sengaja saya siapkan secara khusus. Nanti, kalau saya pensiun, gunting ini akan menjadi benda-benda bersejarah,” ujar Agus.

Bagi Herman, juga bagi Agus Wahidin, yang mengawali profesinya sebagai tukang potong rambut keliling di wilayah Pondok Pinang dan Pondok Indah pada 1988, mendapat kepercayaan presiden merupakan bayaran yang tak bisa dinilai dengan apa pun.

“Banyak yang nanya, Pak SBY kasih apa saja. Saya bilang bayarannya ya dikasih kepercayaan. Kepercayaan itu tidak sembarang orang bisa dapatkan. Jangan sampai saya menodai kepercayaan itu,” kata Agus.

Lain pula kisah perkenalan Muhammad Nasim, 77 tahun, tukang cukur paling senior di Pax Wijaya, Jakarta Selatan, dengan B.J. Habibie, presiden ketiga Indonesia. Nasim kenal Habibie lewat adiknya, Suyatim “Timmy” Habibie. Timmy sudah lama jadi langganan Nasim.

Selama bertahun-tahun rambut Habibie selalu dicukur oleh istrinya, Ainun. “Setelah istrinya meninggal, beliau bingung mau cukur di mana,” kata Nasim. Timmy-lah yang memberikan nama Nasim kepada kakaknya itu. Nasim menuturkan tak pernah membayangkan suatu kali nanti bakal mencukur rambut seorang mantan Presiden Indonesia.

Tak berapa lama setelah Ainun meninggal, telepon di Pax Wijaya berdering. Di ujung sana ternyata ajudan Habibie. Nasim diminta segera mengemasi alat-alat cukurnya. Satu mobil dikirim untuk membawa Nasim ke rumah Habibie di bilangan Kuningan.

Habibie tak pesan macam-macam kepada Nasim. Sebagai tukang cukur yang sudah puluhan tahun memegang gunting, hanya sekilas melihat rambut dan bentuk kepala Habibie, dia sudah tahu model seperti apa yang cocok untuk mantan Presiden Indonesia ini. “Karena rambut di samping kiri dan kanan sudah tipis dan di atasnya botak, jadi tinggal dirapikan saja. Saya agak grogi juga awalnya. Tapi sekarang sih sudah lancar,” kata Nasim.

Kini setiap dua bulan sekali, ajudan mantan presiden Habibie datang menjemput Nasim. “Setiap datang, saya selalu ditanya bagaimana keadaan anak dan cucu di kampung. Saya juga enggak beranilah ngomong macam-macam. Namanya juga rakyat kecil, takut salah ngomong,” ujar Nasim.

Biasanya, setiap kali selesai mencukur Habibie, Nasim membawa pulang Rp 500 ribu, lebih dari enam kali lipat ongkos mencukur di Pax Wijaya.

“Pulang dari sana setelah mencukur pun saya kadang masih bengong, enggak nyangka barusan mencukur rambutnya Pak Habibie.”