garut header
Senin, 21 Agustus 2017   English | Sunda
rss2
Assalam wrwb, Maaf sebelumnya, dimana saya…
assalamualaikum, upami bade magang di dinas…
aslkm.bade naroskeun upami prosedur ngadaamel surat…
Situs yang bagus, sangat bermanfaat. saran…
Tekan tuts panah kiri/ kanan Keyboard untuk berpindah ke artikel lain
Jadwal Imsakiyah
rss2 berita
Bahan Impor Serbu Garut, Produksi Kulit Sukaregang Menurun

Sepanjang tahun 2016 bisa dikatakan masa paceklik bagi sejumlah produsen kulit di kawasan industri penyamakan kulit Sukaregang, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Menurunnya produksi penyamakan kulit ini ditenggarai akibat dari masuknya bahan impor.

Menurut Sekretaris Asosiasi Penyamak Kulit Indonesia (APKI) DPD Garut, Yusuf Tojiri, imbas dari ekonomi global nenjadi salah satu faktor menurunnya industri kulit. Sejumlah pengusaha kulit di sentra industri kulit Sukaregang kini tengah menghadapi kesulitan.

” Cina dan Pakistan sudah mengimpor kulit ke Indonesia. Apalagi harganya bisa lebih murah. Kami cukup kesulitan untuk bersaing dengan mereka. Peran dan perhatian pemerintah saat krisis seperti seklarang sangat kami butuhkan untuk tetap bisa bertahan,” ungkapnya, Beberapa waktu lalu.

Dijelaskannya, rata-rata jumlah produksi kulit di Sukaregang mencapai 40 persen. Di perusahaannya saja, dari jumlah produksi sebesar 70 ribu kaki (ukuran 28x28 cm) kini hanya bisa memproduksi 30 ribu kaki saja. Kondisi seperti ini mulai dirasakan sejak masuknya bahan dari luar negeri.

Dari hasil survei yang dilakukan APKI, kini hanya ada 205 industri yang bertahan. Padahal sebelumnya terdapat 387 industri kulit yang eksis. Mayoritas para pengusaha sudah tak nyaman dengan situasi saat ini. Ditambah izin usaha kulit sekarang juga menjadi salah satu kendala.

“Sekarang kan izinnya sedang ditunda dulu oleh Pemkab Garut. Jadi kami para pengusaha kesulitan juga. Akses ke dunia perbankan juga susah. Bahkan kami tidak bisa mengekspor kulit ke luar karena tidak ada izinnya,” keluhnya.

Yusuf menyebutkan, salah satu penyebab izin ditundanya perizinan, karena masalah instalasi pengolahan air limbah (Ipal) yang masih dipermasalahkan. Permasalahan tersebut mengakibatkan banyak perusahaan yang gulung tikar. Banyak pengusaha yang tak nyaman karena merasa dipersulit.

“Industri ini sudah berjalan turun temurun, lahir dari masyarakat kelas biasa. Sekarang kami terombang ambing. Pemerintah harusnya mampu melihat masalah-masalah yang ada dan memberi solusinya,” katanya.

Diharapkannya ke depan Pemkab Garut bisa mengeluarkan regulasi yang pro ke semua lapisan. Pihaknya pun siap untuk membuat Ipal asalkan industri kulit bisa terus berkembang.

“Syaratnya apakah harus revitalisasi ipal atau bahkan relokasi. Silakan saja asal kami masih bisa terus berjalan. Peran setiap kalangan harus ada. Kalau tumbuh bisa menambah ekonomi juga,” tukasnya.

Dikatakannya, saat ini pemerintah tengah menggodok peraturan soal Ipal. Jika industrinya sudah maju maka harus membuat Ipal. Namun untuk industri yang kecil Pemda bisa menyediakan dan mengoperasionalkan Ipalnya.