garut header
Minggu, 24 September 2017   English | Sunda
rss2
Assalam wrwb, Maaf sebelumnya, dimana saya…
assalamualaikum, upami bade magang di dinas…
aslkm.bade naroskeun upami prosedur ngadaamel surat…
Situs yang bagus, sangat bermanfaat. saran…
Tekan tuts panah kiri/ kanan Keyboard untuk berpindah ke artikel lain
Jadwal Imsakiyah
rss2 berita
Kesbangpol: Garut Bukan Lumbung Terorisme

Kepala Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Garut, Jawa Barat, Wahyudijaya menyatakan, Garut bukan daerah lumbung terorisme yang selama ini terbangun citranya akibat informasi di media massa terkait warga Garut terlibat kasus aksi terorisme di Jakarta dan Bandung.

“Kejadian teror di Kampung Melayu, Jakarta, dan Batu (Bandung) yang pelakunya orang Garut, kasus itu tentunya merugikan warga Garut, bahwa ada kesan ini adalah lumbung,” kata Wahyudijaya kepada wartawan di Garut, belum lama ini.

Ia menuturkan, Kabupaten Garut menjadi perhatian nasional terkait munculnya kasus ledakan bom di Kampung Melayu, Jakarta dan Buah Batu, Kota Bandung, yang pelakunya tinggal di Garut.

Menurut dia, munculnya kasus ledakan bom itu telah membangun citra di publik bahwa Garut banyak teroris. “Sekarang image Garut yang terbangun konotasinya ke sana (teroris),” katanya.

Ia menyampaikan, Pemerintah Kabupaten Garut termasuk didalamnya Komunitas Intelijen Daerah (Kominda) Garut bukan berarti tidak melakukan pencegahan, tetapi dilakukannya secara hati-hati.

Kabupaten Garut, kata dia, diakui secara sejarahnya terdapat gerakan pemberontakan, bahkan dideteksi ada bekas latihan pemberontakan di Garut. Namun dari kasus ledakan bom di Jakarta dan Garut, kata dia, berdasarkan informasi yang dihimpunnya tidak ada kaitannya dengan gerakan sejarah pemberontakan di Garut.

“Setelah kejadian di Bandung misalnya, kami (Kominda) langsung melakukan pemetaan jejaring, dan ada yang unik pelakunya tidak terkonek dengan jaringan lain,” kata Wahyu.

Menurut dia, informasi yang dihimpun Kominda bahwa terduga teroris di Bandung, Agus Wiguna warga Bungbulang, Garut, belajar merakit bom karena melihat pekerjaan kakeknya sebagai penjual petasan.
Sedangkan tentang pemahaman jihad, kata dia, belajar dari media sosial yang akhirnya mempengaruhi pikiran hingga mau melakukan tindakan teror tersebut.

“Latar belakang keberadaan Agus Wiguna itu belajar merakit bom karena melihat kakeknya sebagai tukang petasan, dan suka membaca postingan hingga dia terbangkit ruh jihad,” katanya.

Ia menambahkan, upaya pemerintah daerah dalam mencegah terorisme di Garut dengan meningkatkan pemahaman tentang kebangsaan kepada masyarakat.

“Kami dengan jajaran aparat kepolisian dan Dandim tidak diam, terus membahas mengenai masalah ini,” kata Wahyudijaya.