garut header
Selasa, 12 Desember 2017   English | Sunda
rss2
Assalam wrwb, Maaf sebelumnya, dimana saya…
assalamualaikum, upami bade magang di dinas…
aslkm.bade naroskeun upami prosedur ngadaamel surat…
Situs yang bagus, sangat bermanfaat. saran…
Tekan tuts panah kiri/ kanan Keyboard untuk berpindah ke artikel lain
Jadwal Imsakiyah
rss2 berita
Harga Beras Bisa Naik 100%

Harga beras diprediksi akan terus naik. Bahkan, Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan harga beras dunia bakal melonjak dua kali lipat pada tahun 2011. “Tahun ini memang akan ada ancaman kenaikan harga beras, malah prediksi internasional naiknya bisa dua kali lipat,” ujar Kepala BPS Rusman Heriawan di Jakarta, Senin (3/1).

Rusman menilai kenaikan itu sehubungan pengetatan ekspor beras oleh Thailand dan Vietnam. Seperti diketahui, kedua negara tersebut merupakan pengekspor beras terbesar di dunia.

“Mereka (Thailand) juga khawatir dengan anomali cuaca, akibatnya mereka sudah mengumumkan akan sangat membatasi ekspor, walaupun mereka dalam posisi surplus beras. Ini sinyal, kita tidak bisa berharap mengendalikan harga beras lewat impor,” ujarnya.

Sebagai solusi, Rusman menyatakan, pemerintah harus mengendalikan harga dengan menggenjot produksi beras lokal serta memberikan fasilitas tambahan kepada petani.

“Kita harus manjakan petani agar bergairah untuk menanam padi. Itu satu-satunya cara untuk meningkatkan produksi beras tahun 2011,” ujarnya.

Sementara itu, berdasarkan pemantauan “PR”, harga beras dalam sebulan lalu sudah bertahan di kisaran Rp 6.500 - Rp 7.000 per kilogram untuk jenis IR 64. Menurut pedagang grosir beras PD Sukapura di Pasar Kosambi, Eddy Sudirman, harga yang relatif sama juga pada jenis Setra Ramos 2 dan Cisadane.

Beras kualitas premium, seperti Pandan Wangi, Mentik Wangi, dan Jembar Wangi dijual dengan kisaran harga Rp 8.000 - Rp 9.000. Sementara beras kualitas medium, Jembar Sumedang, Jembar Cianjur, dan Setra Ramos dijual dengan harga Rp 7.500 - Rp 8.000 per kilogram.

Untuk menekan harga beras, menurut Eddy, perlu dilakukan operasi pasar (OP). Namun, pemerintah harus memperhatikan kualitas beras dan harga jual. Menurut Eddy, selama ini OP tidak efektif karena kualitasnya lebih rendah dibandingkan dengan harga beras terendah di pasar, dengan perbedaan harga yang relatif kecil.

“Terakhir pemerintah mematok harga beras OP Rp 6.200 - Rp 6.300 per kilogram. Dengan kualitas setara raskin, tentu masyarakat lebih memilih beras termurah di pasar, dengan harga Rp 6.500,” tuturnya. Ia menilai, idealnya harga beras OP Rp 5.500 - Rp 6.000 per kilogram dengan kualitas yang lebih baik.

Produksi menurun

Sementara itu, menurut Ketua Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Jabar, H. Oo Sutisna, kendati sejumlah sentra produksi padi kini sedang ada yang panen, secara umum, musim panen awal tahun 2011 diperhitungkan baru Maret. Ini disebabkan sebelumnya banyak petani yang gagal tanam sehingga harus mengulang penanaman.

Pada sisi lain, dalam memelihara tanaman, petani juga ikut memengaruhi keberhasilan penanaman. Saat ini banyak areal tanaman padi di Jabar sudah sulit ditingkatkan produktivitasnya, akibat terlalu banyak menggunakan bahan-bahan kimia.

“Akibatnya, hama tanaman tak mempan lagi oleh obat-obatan, sedangkan kesuburan lahan menjadi menurun karena jenuh bahan kimia. Celakanya, lahan-lahan pertanian, khususnya sawah beralih fungi secara sangat cepat,” ujarnya.

Ia menyebutkan, banyaknya kegagalan panen akibat kondisi tersebut umumnya terjadi di utara Jabar, dan terdapat pada lahan-lahan yang selama ini diketahui sangat tinggi menggunakan bahan-bahan kimia. Sebaliknya, kegagalan panen di selatan Jabar tak begitu tinggi, karena masyarakat setempat lebih terbiasa menggunakan campuran bahan-bahan organik bagi tanaman padi sehingga lahannya relatif lebih subur dan masih dapat dikendalikan jika terjadi serangan hama.

Ia menilai, dalam kondisi ini harus benar-benar dihitung secara jujur seberapa jauh pendataan secara akurat di lapangan oleh Biro Pusat Statistik (BPS). Soalnya selama ini pendataan yang dilakukan, sering kali berdasarkan data tiga tahunan, padahal di lapangan perkembangannya drastis.

Dikatakan, data jumlah lahan sawah aman di Jabar selalu dipatok dan dinyatakan aman dalam jumlah 900.000 hektare. Padahal data itu data yang ditetapkan Departemen Pertanian sejak sepuluh tahun lalu. Kenyataan di lapangan, alih fungsi lahan sawah sudah dalam taraf mengkhawatirkan, terutama di wilayah yang dekat permukiman baru.