
Hidup dalam penjara ternyata bukan akhir dari segalanya. Setidaknya ini ditunjukan para napi yang sedang menjalani masa hukuman di Lapas Kelas II B Garut, Jawa Barat.
Momentum Ramadan diisi dengan beragam kegiatan, salah satunya mengunjungi perpustakaan di lapas tersebut. Dengan membaca beragam buku pengetahuan, diharapkan akan dapat memperkaya pengetahuan mereka. “Sangat banyak sekali manfaatnya, khususnya untuk warga binaan,” kata Toni, napi Lapas Garut, Ahad (5/8).
Sejumlah napi mengaku jika keberadaan perpustakaan telah memberikan manfaat dan sedikit banyak telah mengubah pola hidup keseharian mereka. Jika sebelumnya hanya duduk-duduk dan berdiam diri di ruang tahanan, maka di Ramadan ini mereka lebih sering menghabiskan waktu dengan membaca buku. Terlebih, membaca buku adalah cara mujarab untuk menunggu waktu berbuka puasa tiba.
Sementara di Masjid Ataqwa di dalam Lapas Kelas II Banyuwangi, Jawa Timur, Ramadan diisi dengan kegiatan mengaji dan zikir menunggu buka puasa. Bahkan, ada seorang narapidana yang kini sibuk menulis Alquran berukuran besar. Adalah Sugianto. Narapidana yang mendapat hukuman empat tahun ini sibuk menulis Alquran berukuran 100 X 80 sentimeter.
Penulisan yang dimulai sejak Maret lalu kini sudah memasuki juz ke-17. Tulisan Alquran tersebut ditulis menggunakan spidol dan kertas khusus yang disiapkan pihak lapas. Bagi Sugianto, menulis Alquran, apalagi berukuran besar adalah mukjizat dan berkah Ramadan. Sebab, sebelum menjadi narapidana, dirinya mengaku tidak terlalu mengenal Alquran.