placeholder for flash movie
Jumat, 22 Agustus 2014   English | Sunda
Assalammualaikum.. Perkenalkan, saya nadia.. Mau bertanya,…
Dirgahayu RI ke 69, jayalah selalu…
Ass.selamat malam bapa ibu yg budiman..dengan…
Pak bade tumaros info lowongan kerja…
SMS
Tekan tuts panah kiri/ kanan Keyboard untuk berpindah ke artikel lain
Jadwal Imsakiyah
Penghargaan
Sindikasi
rss2 berita
SMPN 1 Pasirwangi Terancam Longsor

Sebuah tebing di Kampung/Des./Kec. Pasirwangi, Kab. Garut terus-menerus dilanda abrasi. Akibatnya, bangunan SMP Negeri 1 Pasirwangi dan sejumlah rumah warga yang berdiri tak jauh dari tebing terancam longsor.

Tebing tersebut berada pada ngarai yang ukurannya dari waktu kewaktu semakin membesar akibat permukaan tanah yang terus longsor. Semakin lama, bibir tebing semakin mendekati bangunan sekolah dan permukiman warga. Jika tidak segera ditanggulangi, dikhawatirkan bangunan sekolah dan permukiman akan terbawa longsor.

Menurut Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Pertambangan (SDAP) Kab. Garut, Uu Saefudin, tidak ada upaya lain yang bisa dilakukan untuk menanggulangi kondisi itu, selain merelokasi bangunan sekolah dan permukiman penduduk ke tempat yang lebih aman. Upaya itu dilakukan untuk menghindari timbulnya bencana yang bisa menelan korban.

“Selama ini kami hanya melakukan antisipasi dengan cara memasang beronjong kawat dan karung berisi tanah penahan tebing supaya tidak longsor. Namun upaya itu memerlukan bahan dengan jumlah sangat banyak sehingga dianggap tidak efektif,” jelas Uu saat ditemui, Selasa (16/4).

Lebih jauh Uu mengatakan, idealnya tebing dengan kedalaman sekitar 50 meter tersebut dipasangi tembok beton. Tetapi, upaya itu memerlukan anggaran yang sangat besar, yakni di atas Rp 5 miliar. Anggaran sebesar itu tidak sebanding dengan nilai aset yang harus diselamatkan. Maka dari itu, langkah yang paling tepat adalah relokasi.

“Berdasarkan perhitungan, biaya relokasi sekolah dan rumah warga jauh lebih murah bila dibandingkan dengan membangun kirmir beton penahan tebing. Maka dari itu, daripada membangun kirmir beton dengan anggaran di atas Rp 5 miliar, lebih baik merelokasi sekolah dan rumah warga. Terlebih, biaya pembangunan kirmir tidak cukup hanya mengandalkan anggaran dari APBD Kab. Garut,” imbuhnya.

Dikatakan, meluasnya ngarai terjadi akibat permukaan tebing yang terus-menerus longsor. Selain kontur tanahnya labil, juga disebabkan tekanan air. Ngarai tersebut akan terus meluas dan mendekati bangunan. Saat ini jarak bibir jurang dengan bangunan sekitar 20 meter. Bahkan sebelumnya longsoran jurang sempat merusak rumah dan musola.

Navigasi
Angkutan Umum
ATM/Bank/Asuransi
Biro Jasa & Layanan Umum
Instansi Pemerintah
Jasa Wisata
Kantor Pelayanan
Keagamaan
Layanan Telematika
Organisasi Masyarakat
Perbelanjaan
Produsen Produk Khas
Sarana Kesehatan
Sarana Pendidikan
Web/Blog
August 2014
SuMoTuWeThFrSa
     12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31      
Stats Situs
Tautan Pilihan
spacer