Ribuan Batu Bersusun Mirip Situs Gunung Padang Ditemukan di Garut

Belum lama ini, sejumlah masyarakat pemerhati sejarah dan budaya melaporkan adanya sebuah lokasi di Kampung Cibiru Desa Margalaksana Kecamatan Bungbulang selatan Kabupaten Garut berupa bukit memanjang terdiri dari deretan balok-balok batu berbentuk unik dan aneh mirip balok-balok batu terdapat di situs megalitikum Gunung Padang Cianjur.

Keberadaan batu-batu unik di Desa Margalaksana itu bukan hanya memiliki kemiripan dengan yang berada di Gunung Padang melainkan diduga lebih banyak lagi. Atau dengan kata lain, radius keberadaan batu-batuannya lebih luas. Tak heran, jika arealnya dinilai berpotensi merupakan situs megalitikum seperti halnya situs Gunung Padang.

Hanya, berbeda dengan situs Gunung Padang yang mengundang berbagai upaya riset dan penelitian bukan hanya para ahli dari dalam negeri melainkan juga para ahli dari berbagai negara di dunia, keberadaan bebatuan di Desa Margalaksana yang kadang disebut Batu Raden itu bisa dikatakan belum tersentuh penelitian sama sekali.

Akan tetapi baru-baru ini, jajaran Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Garut, dan Wabup Garut Helmi Budiman merespon laporan tersebut dengan meninjau ke lokasi. Dalam waktu dekat, Pemkab Garut pun disebut-sebut segera mengundang Tim Ahli untuk bisa mengungkap keberadaan bukit balok batu misterius tersebut.

Seperti halnya bebatuan di Gunung Padang Cianjur, bebatuan di Desa Margalaksana juga berbentuk balok-balok batu memanjang berbagai ukuran dengan tampak muka persegi lima, atau persegi enam dengan diameter bervariasi mulai sekitar 15 centimeter lebih. Panjang balok batu juga bervariasi.

“Panjangnya ada yang mencapai tiga meter. Menurut warga bahkan ada juga yang mencapai lima meter. Sayangnya, banyak balok batu yang patah-patah, dan dimanfaatkan warga untuk dijadikan dinding rumah, atau batu tatapakan untuk jalan,” kata Kepala Disparbud Budi Gan Gan didampingi Kepala Bidang Kebudayaan Cecep Saeful Rahmat, belum lama ini.

Menurut Cecep, balok-balok batu di Margalaksana tersusun rapih menjorok ke dalam membentuk dinding berketinggian sekitar 50 meter dengan panjang bentangan diperkirakan satu kilometer lebih, mulai Desa Margalaksana hingga perbatasan Desa Mekarmukti. Dinding balok-balok batu tersebut berada persis sepanjang sebuah aliran sungai kecil yang terdapat di sana. Sehingga keberadaannya lebih merupakan bantaran sungai bersangkutan.

Pada musim hujan, dinding batu-batu balok tersebut tak terlalu kelihatan karena tertutupi berbagai macam tanaman merambat yang tumbuh di sana.

Belum diketahui jenis batu berbentuk balok-balok panjang tersebut. Namun penduduk setempat menyebutkan batuan tersebut lebih keras dan lebih kuat dibandingkan umumnya bebatuan yang dimanfaatkan penduduk untuk berbagai keperluan di sana.

“Penduduk juga tidak tahu jenis batuannya apa. Hanya menurut mereka, bukan bahan batu biasa yang ada di sana. Batunya lebih kuat, dan seperti dibawa dari luar. Makanya, penduduk memanfaatkan batu-batu balok ini untuk bangunan rumah atau tatapakan karena kekuatannya itu,” ujar Cecep.

Selain batu-batu berbentuk balok panjang, pada bagian lain terdapat deretan batu berbentuk tak kurang uniknya, yakni berbentuk bundar cukup tebal mirip lontong yang dipotong-potong. Batu tersebut cenderung lebih berwarna sehingga diduga jenisnya berbeda dengan bebatuan berbentuk balok panjang itu. Batu-batu bundar berdiameter cukup lebih sehingga muat untuk tempat duduk.

Sebagian susunan batu bundar tersebut diduga runtuh tampak berserakan di sungai.

“Akan ada rombongan dari arkeologi ke lokasi Batu Raden Cibiru. Menurut sejumlah ahli yang sempat melihat ke lokasi, di Batu Raden ini ada peninggalan situs yang hamper sama dengan situs Gunung Padang Cianjur. Benar atau tidaknya, tentu mesti dilakukan penelitian lebih lanjut lagi,” kata Cecep.