Puncak Hari Jadi Garut, Memodifikasi Produk Lawas

Semarak puncak peringatan hari jadi ke-199 Garut tahun ini, yang digelar pada 20-24 April 2011, umumnya hanya mengusung modifikasi produk sosial ekonomi dan budaya lawas, meski sebagai kearifan lokal bernilai “adi luhung”.

Selama empat hari, dipastikan terdapat tampilan beragam sajian seni dan budaya “buhun”, diantaranya “Helaran Surak Ibra, Maramis” serta jenis kesenian lain, yang antara lain dilengkapi pembacaan puisi, pameran lukisan dan pameran foto.

Kemudian pada 21 April malam, terdapat pertunjukan operet Raden Ajoe (RA) Lasminingrat, yang lahir 1843 atau jauh sebelum RA Kartini (1879).

RA Lasminingrat penulis karya sastra “Carita Erman” (1875), kemudian “Warnasari” Jilid I (1876) disusul jilid keduanya (1887), selain itu sebagai pendiri “Sakola Kaoetamaan Istri” (1907).

Digelar pula, aneka jus Garut, lomba mengonsumsi jeruk Garut dan kotak strawberry, beragam kreasi mata lembu, serta pertunjukan reog perempuan.

Berikutnya lomba makan dodol, dan “es goyobod” khas Garut Selatan secara gratis, sedangkan tampilan produk potensi UMKM Garut, diantaranya jaket kulit.

“Rindu Kualitas Produk Kinerja Bupati”

Dibalik jasa baik piawainya mengemas modifikasi beragam produk kearifan lokal masyarakat Garut, yang adi luhung itu, dipastikan rakyat pun sangat merindukan serta mendambakan kualitas produk kinerja bupati beserta seluruh jajarannya.

Diantaranya proses reformasi birokrasi, yang proporsional dan profesional, tetapi hingga hari ini masih menjadi sebatas impian, juga masih “kuatnya indikasi” penempatan jabatan struktural yang didasari komersialisasi serta sarat kepentingan politis.

Bahkan denyut nadi pembangunan sosial ekonomi dan kemasyarakatan, termasuk pembangunan fisik, semakin mengesankan jalan di tempat, nyaris menyerupai penyakit mengerikan, “lesu darah” maupun ibarat kerakap diatas batu, hidup segan, mati pun tak mau.

Malahan kawasan perkotaan semakin carut-marut, kumuh, sarat bertebaran kotoran kuda, serta bidang lainnya yang nyaris mengalami stagnasi, lokasi simpul kemacetan arus lalu lintas pun terdapat di mana-mana.

Nyaris yang hanya bisa dirasakan rakyat, aktivitas serimonial dan protokoler para petingginya.

Sekretaris Korpri Kabupaten setempat, H.M. Rakhmat, M.Si mengingatkan, terjadinya mutasi yang tidak normatif bisa menimbulkan banyak permasalahan baru, di lingkungan Pemkab dan Setda setempat.

Menyusul selain berakibat menutup rapat karier pegawai senior, juga menyebabkan sulitnya mencapai optimalisasi kinerja, sebab bukan ditangani oleh kader pegawai terbaik, juga menimbulkan perpecahan di kalangan pegawai itu sendiri.

Bahkan katanya, sangat mengusik rasa keadilan sehingga memicu beragam respon negatif, malahan jika terdapat unsur komersial serta intervensi politis, dapat menimbulkan perilaku yang korup, ungkapnya.

Dia mengakibatkan pula, sebagian energi kalangan birokrasi, tersedot habis untuk mendinginkan “belitan” permasalah internal, yang diciptakannya sendiri.

Sehingga dalam melaksanakan proses pelayanan publik, tidak akan terdapat perhatian penuh untuk mengatasi kesulitan rakyat, ungkap Rakhmat dengan nada geram.

Didesak pertanyaan Garut News, mengenai fenomena mutasi yang tidak normatif itu, antara lain pegawai yunior yang tidak berprestasi malahan bisa menjabat, kemudian terdapatnya pegawai yang masih bermasalah dengan hukum, tetapi kariernya bisa naik maupun cemerlang, katanya.